Mau Dijual ke Malaysia 3 Gadis Ini Lolos


Ilustrasi
Tiga gadis remaja asal Semarang, Jawa Tengah, DA, NS, dan IM, melarikan diri dari penampungan di kawasan Seibeduk, Kota Batam, Kepulauan Riau, karena khawatir akan dijadikan pegawai seks komersial di Malaysia.

"Dari kampung, kami dijanjikan bekerja di toko, tetapi setelah sampai di Batam kami mendengar akan dijadikan pekerja seks komersial (PSK) di Malaysia. Kami tidak mau, dan memilih lari dari penampungan," kata DA (17) di Markas Polsek Seibeduk, Kota Batam, Senin (15/8/2011).

Menurut Dian, ia dan dua temannya yang semua berasal dari daerah Karang Anyar, Semarang Tengah, beberapa waktu lalu didatangi oleh Mush alias Ags, yang menawari mereka bekerja menjadi penjaga toko di Malaysia.

"Ags datang ke rumah dan meminta izin kepada orangtua saya. Karena keluarga mengalami kesulitan ekonomi, akhirnya kami diperbolehkan ke Malaysia. Keluarga juga ditinggali uang Rp 500.000 dari Ags," kata Dian.

Dengan niat ingin membantu perekonomian orangtua, DA (17), NS (16), dan IM (15), Jumat (13/8/2011), berangkat dengan pesawat terbang dari Bandara Ahmad Yani menuju Jakarta dan melanjutkan ke Batam bersama lima orang lain, yaitu Nuri, Alex, Hadi, Riski, dan Ags, orang yang membiayai mereka semua.

Menurut Novita, keempat laki-laki yang berangkat bersama mereka dijanjikan akan dipekerjakan di kebun sawit di Malaysia. "Semua ditanggung dia (Ags), termasuk pembuatan paspor di Batam. Penggantinya kami tidak akan terima gaji selama tiga bulan," kata Novita.

Setelah sampai di Batam, kata Novita, ia mulai mendengar kabar kalau hendak dijadikan PSK di Malaysia. "Setelah menginap dua malam di rumah penampungan, akhirnya pada Minggu sekitar pukul 22.00 WIB kami bertiga memilih kabur dari penampungan," katanya.

Akhirnya, ujarnya, ia dan kedua rekannya diantar oleh warga sekitar penampungan ke Markas Polsek Seibeduk. "Teman kami yang laki-laki juga berencana kabur, tapi enggak tahu akhirnya jadi kabur apa tidak," katanya.

Setelah mendapat laporan dari ketiga gadis tersebut, anggota Polsek Seibeduk menangkap Ags dan Mard. Mard adalah pemilik rumah yang menjadi tempat penampungan sementara.

"Kami menjebak mereka di Panbil Mall. Dengan cara berpura-pura kami menemukan tiga gadis yang tersesat dan mengaku keluarga Ags," kata Kapolsek Seibeduk Ajun Komisaris Firdaus.

Ternyata, katanya, Ags dan Mard tak berselang lama datang ke Panbil Mall untuk menjemput mereka. Akhirnya anggota yang sudah siaga menangkap Ags dan Mard.

"Untuk sementara, kami masih memintai keterangan Ags dan Mard serta keluarganya yang juga telah kami amankan. Kasus ini memang mengarah ke kasus trafficking in person (perdagangan manusia)," katanya.

Kapolsek mengatakan akan berkoordinasi dengan pihak Polres Kota Batam Rempang Galang untuk mengembangkan dan membongkar jaringan penjualan manusia ini."Kami telah berkoordinasi dan akan segera mendalami kasus ini, termasuk mencari empat orang lain yang juga telah kabur dari penampungan di daerah Sungai Daun Seibeduk," ucap Firdaus.